TREND usaha SEPATU di CIBADUYUT atau….


baru ngisi lagi nih… setelah beberapa bulan saya malas untuk menulis. oh iya selamat tahun baru 20011 semoga kita semua diberikan oleh Allah barokah yang lebih banyak, rezeki yang bermanfaat, ilmu pengetahuan yang berguna serta kemajuan sifat, mental dan kekuatan iman yang mampu membawa kita ke arah yang lebih baik lagi… Amin.
———————————–
Ada satu perkembangan dalam hal ini saya “istilahkan” sebagai trend di kawasan Home industri sepatu cibaduyut, yaitu “Banyaknya pengusaha yang beralih strategi usahanya dengan cara menerima pesanan sepatu satuan”
Tekhnisnya yaitu mereka menerima pembuatan berbagai model sepatu berdasarkan gambar yang di bawa oleh si pemesan.
selidk punya selidik ternyata gambar yang kebanyakan meniru model yang dari majalah, internet dan lain sebagainya itu bagi sebagian pemesan cukup memuaskan hati mereka, walaupun dengan catatan tidak semua bahan sama persis dengan yang ada di gambar tersebut tapi, kalau masalah model sepatunya sama persis !!! wahhh…hebat kan orang cibaduyut !!!
seperti dituturkan oleh seorang kawan yang meiliki counter sepatu di salah satu mall cukup terkenal di kota bandung, dia menerima pesanan sepatu satuan di counter nya lalu yang mengerjakannya ya itu orang cibaduyut !!!
siapa sangka, tak ada yang mengira bahwa sedemikian cerdiknya teman saya itu memanfaatkan peluang usaha sampai sedemikian rupa.
mengenai harga ?? hmm… jangan tanya,
diatas 300 ribu rupiah. sedang modal yang dia keluarkan hanya 175 ribu rupiah saja… bayangkan !!!
tapi disini yang mau saya ungkapkan sebenarnya adalah : Bagaimana mungkin tidak akan maju jikalau memang home industri yang ada di cibaduyut mau dan perduli serta ingin tau tehnik dan strategi pemasaran. inikan menyangkut biaya produks,i mereka yang tidak memiliki modal yang cukup besar barang tentu lebih tertarik dengan pesanan sepatu satuan di banding pesanan sepatu partai besar.
jadi jika memang harus di tanya layakkah pengusaha kecil tersebut memiliki pengetahuan dasar strategi pemasaran ?? jawabannya ya !!
bagai mana pendapat kawan kawan blogger ?…. saya tunggu masukan serta kritikannya

Bandung, 01012011

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Awalnya Memakai Gigi Kayu (Cikal bakal Sepatu Sepak bola)


Cibaduyut,

PADA mulanya, sepatu jenis apapun boleh dipergunakan di lapangan. Mulai sepatu alas polos, sepatu kerja, bahkan sepatu wanita dengan hak agak tinggi pun sah-sah saja dipakai pemain menendang bola.

Sampai kemudian, keluarlah peraturan FIFA pada 1863 yang membatasi aturan sepatu di lapangan hijau. Aturan itu berbunyi “”Yang tidak memakai paku menonjol, lempengan besi, atau getah karet pada sol sepatunya diperbolehkan bermain.”
Aturan tersebut menggiring produsen sepatu untuk serius menekuni sepatu bola. Diantaranya yang merintis adalah Herman Jansen pada Januari 1905. Ia membuka bengkel sepatu bola di rumahnya di Hengelo, Gerderland, Belanda Timur. Inilah yang jadi cikal bakal Reebok.
Mulai tahun 1910-an, sepatu dengan nama Cup Final Specials mendunia berkat “gigi-gigi” kayu di bagian bawah agar pemain mudah mencengkeramkan kakinya ke tanah.
Ujung sepatu dibuat dengan pola anyaman agar pemain mudah menggerakkan jari kakinya selama mengontrol bola. Bentuk gigi itu seperti tabung dengan tiga paku kecil berujung tajam. Pemain harus memakukan “kuku” itu ke sol dengan palu kecil
Era 1920-an, sepatu bola mulai diproduksi massal. Persaingan di antara sesama produsen pun timbul. Dan ini mendorong produsen untuk menggandeng pemain terkenal sebagai ikon produk mereka. Bintang Inggris, Stanley Matthews mencatatkan diri sebagai pemain pertama yang disewa sebagai bintang iklan sepatu pada 1951.
Pemain bintang lain pada menyusul.. Sepatu Bobby Charlton, contohnya, beredar pada 1964. Dua tahun kemudian, muncul sepatu bermerek Pele, yang dibuat sesuai tuntutan gaya main lincah ala pemain Brasil tersebut. Kini, semua pemain bintang tak lepas dari ikon berbagai produk sepatu bola. (Persda Network/berbagai sumber)

Dari Hitam Polos ke Pink Menyala
SAMPAI era 1980-an, pakem warna sepatu bola adalah hitam, atau cokelat dengan strip putih. Warna itu dianggap identik dengan sosok macho seorang pesepakbola. Masuk era 1990-an. ‘pemberontakan warna’ mulai bermunculan.
Adalah pemain Maroko, Moustafa Hadji yang jadi salah satu pelopor dengan memakai sepatu berwarna  merah pada tahun 1998.
Pada 1995, mantan pemain Liverpool, Craig Johnston, mendesain sepatu bernama
Predator yang diproduksi oleh Adidas. Sepatu ini menggunakan kulit kanguru sebagai
lapisan luarnya yang diklaim mempermudah lengkung arah bola. Klaim ini membuat
sepatu itu laris manis dan antara lain dipakai eksekutor seperti Zinedine Zidane, David
Beckham, dan Steven Gerrard.
Kini, sepatu bola tersedia dalam beragam warna. Nike, misalnya, pernah membuat sepatu berwarna genit merah muda, Nike Mercurial Vapor Rosa.  Di antaranya dipakai oleh
Nicklas Bendtner dan Franck Ribery.
Tak mau kalah, bintang Barcelona, Lionel Messi, menyukai warna biru
terang Adidas F50i yang dikenakannya pada final Liga Champions 2009. Sepatu dengan
lapisan SprintSkin dari bahan sintentis antiair nan fleksibel tersebut juga akan menghiasi
kaki pemain ternama pada kualifikasi Piala Dunia 2010. (Persda Network/berbagai sumber)

Begitulah……

Posted in artikelku | 2 Comments

Adopsi konsep pemasaran bagi produsen sepatu Cibaduyt


Kini zamannya pengkhususan. Zaman dulu, seorang dokter dianggap sanggup mengerjakan semua hal. Kini ada dokter yang khusus menangani masalah penyakit hidung yang berbeda dengan dokter khusus yang menangani kulit. Guru SD saya dulu hanya satu orang yang mengajarkan semua disiplin ilmu, kini satu kelas bisa memiliki 10 guru sesuai bidangnya. Kini masing-masing menguasai bidangnya secara khusus.

Inilah perilaku manusia modern yang ingin selalu mendapatkan kegampangan/kemudahan. Manusia modern ingin serba istimewa dan istimewa. Dulu, kita menggunakan asal sabun mandi, kini sabun mandi yang ada adalah sabun dengan fungsi-fungsi khusus, untuk kecantikan, untuk kulit tertentu bahkan ada sabun mandi yang seolah-olah perduli dengan Kesehatan saja.

Satu untuk semua
Jika kita haus, dan ingin membeli minuman botol, kini sudah tersedia dengan berbagai jenis merek dan keistimewaan. Dulu Teh Botol Sosro adalah satu-satunya produk dari perusahaan yang mengeluarkannya. Pepsodent dulunya hanya memiliki satu jenis produk dengan kemasasn kotak berwarna merah dan putih saja.

Koran zaman dulu biasanya adalah koran umum, yang memuat semua berita. Pensil yang kita pakai dahulu hanya satu jenis saja. Sepatu olahraga yang ada juga satu untuk semua. Pabrik sikat gigi dulu hanya memproduksi satu jenis sikat untuk semua jenis gigi.

Konsep pemasaran massal yang memproduksi satu jenis untuk semua pasar sudah banyak ditinggalkan. Perkembangan tuntutan pasar dan persaiangan memaksa produsen menciptakan spesialisasi demi menjaga dan mengembangkan bisnis. Pasar semakin jeli dan memahami kekhususan itu, daya beli meningkat dan kemauan mereka semakin spesifik.

Satu untuk satu
Alasan menguasai pasar dan persaingan mengantarkan para produsen menciptakan kekhususan produk. Salah satu pemain yang piawai menggunakan pemasaran ini adalah Unilever. Di Indonesia, Unilever memiliki 4 merek Shampoo untuk 4 segmen konsumen yang berbeda.

Ada Sunsilk untuk mereka (khususnya perempuan) yang memiliki rambut hitam panjang dengan masing–masing manfaat yang ditawarkannya, ada Clear untuk kaum muda (pria & wanita) dengan manfaat utama anti ketombe, ada Lifebuoy yang dulunya adalah merek sabun tapi dikembangkan menjadi shampoo untuk keluarga yang ingin memiliki rambut sehat, harum dan bebas kuman, serta Dove untuk mengatasi rambut masa kini dengan segala masalahnya (khususnya rambut rusak, rambut yang menggunakan hair coloring, dll). Di negara lain kalau anda mengetahui merek Lux, ternyata juga ada shampoo dari Unilever yang menggunakan merek ini.

Kalau pemasaran massal memproduksi hanya satu jenis shampoo untuk siapa saja, namun ada konsumen tertentu yang merasa shampoo ini tidak menjawab kebutuhan mereka dalam hal tertentu. Dalam hal ini 4 segmen pengguna shampoo dari Unilever adalah contoh dunia konsumen dengan kebutuhan, keinginan serta problematika masing – masing dalam hal merawat rambut.

Contoh yang sama juga dapat kita lihat bagaimana Unilever membagi pasar produk sabunnya dalam 3 merek, yaitu Lux (untuk kecantikan wanita dengan segala manfaat dari sabun Lux), Lifebuoy (Kesehatan-keluarga) dan Dove (kecantikan sejati karena cantik itu tidak mengenal usia, ras dan batasan yang lain sera menonjolkan keistimewaan formulanya yang hingga kini belum bisa dicontoh oleh produsen sabun dimanapun), atau bagaimana Sosro membagi konsumennya berdasarkan jenis produk teh botol Sosro (umum), Estee (menyukai volume/isi lebih banyak) dan Fruit tee (anak muda/khususnya anak sekolah yang menyukai teh rasa buah & cenderung suka rasa manis).Unilever tidak saja menjawab kebutuhan pasarnya tetapi juga memastikan kempetitornya untuk berfikir beberapa kali sebelum menyemplungkan diri kekancah persaingan tersebut.

Niche market
Pemasaran ceruk adalah satu hal yang berbeda. Dalam segmentasi, pemasaran ceruk ini dilakukan dengan memilih satu kelompok konsumen yang merupakan kelompok kecil/eksklusif dari ukuran pasar yang ada, jumlahnya sedikit dan terbatas namun bukan berarti daya belinya rendah. Dalam pemasaran produk yang premium, mikro marketing yang digunakannya juga adalah ceruk pasar (niche market).

Contoh pemasaran mikro jenis ini adalah Pocari Sweat yang merupakan minuman isotonik. Pasar untuk produk jenis ini memang kecil namun menjelang beberapa tahun terakhir ini mengalami pertumbuhan pasar di atas 50 persen, tidak heran apabila awalnya hanya diisi oleh Pocari sendirian dan diikuti oleh beberapa pemain baru dari group Navika/Sinar Mas, Coca Cola (powerade), Danone-Aqua (mizone), mayora (vitazone), dll.

Untuk produk minuman yang mayoritas dikuasai oleh teh (sosro) dan AMDK (aqua), pasar produk minuman isotononik ini sebenarnya masih sangat kecil, karena pasar minuman isotonik disebut sebagai niche market.

Perusahaan yang cerdas dan dapat melihat celah bisa jadi mereka bermain di dua pasar yang berbeda. Sebutlah Toyota yang meluncurkan merek Lexus yang dikenal sebagai produk kendaraan berteknologi tinggi kelas atas untuk menandingi merek-merek mobil mewah dengan segala kualitas dan penawarannya.

Mengapa bermain di dua tingkatan pasar yang berbeda? Karena Toyota dikenal bukan sebagai produk premiun. Demikian juga Nokia yang mengusung merek murah (di bawah Rp750 ribu) sampai mendekati Rp10 jutaan (sekelas communicator) lalu menciptakan merek lain (Vertu) yang bernilai ratusan juta rupiah demi keunggulan dan keterwakilan citra eklusifnya.

Cobalah

Kini, jika produk sepatu anda sudah mencapai usia dewasa, sudah mulai tidak produktif dan cenderung mendatar atau turun. Mungkin kesempatan ini adalah waktu yang tepat untuk adanya perubahan dan perbaikan. Strategi spesialisasi mungkin bisa menjadi pilihan bijaksana saat ini jika peninggkatan pendapatan, menguasai pasar serta bengkel sepatukulitkumemenangkan persaingan adalah orientasi anda.

dikutip dari waspada online /Tulisan Cahyono Pramono.

Posted in artikelku | 2 Comments

si kiri


mana lagi

menanti pasangan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

apa yang ada di cibaduyut hari ini ?


masih seperti bulan kemarin.
1. Berharap sepatu laku
2. Berharap jalan di perbaiki
3. Berharap bahan baku tidak naik
4. Berharap pegawai tak sulit di cari
5. Berharap ada perhatian dari pemerintah
6. Berharap kepada yang yang mau perduli
7. Berharap dan berharap…..

Posted in Uncategorized | 1 Comment

memilih sepatu !!!!


Pernahkah Anda salah beli sepatu? Pernahkah sepatu yang Anda pakai terasa sakit? Semua itu dapat diatasi dengan cara:

1. Pilih sepatu yang nyaman dipakai tanpa melihat menarik atau tidaknya sepatu.

2. Ukuran sepatu harus sesuai dengan ukuran kaki Anda.

3. Sebelum membeli, pikirkanlah dahulu kapan, untuk apa, dan di mana sepatu dipakai!

4. Pilih warna sepatu yang akan sesuai dipadu dengan koleksi busana Anda.

5. Semakin mahal harga sepatu, pastikan semakin serasi untuk dikenakan dalam segala busana.

6. Jangan membeli sepatu hanya karena model itu sedang trendi!

7. Jika tidak punya uang, jangan beli sepatu!

Posted in Uncategorized | Tagged | 1 Comment

aduh a perih….


aduh a perih…. begitulah kira – kira….

ketika dia tau bahwa harga kulit semakin meningkat. tak sanggup lagi rasanya kalau harga kulit naik lagi. Harus berapa sayah ngajual atuh.. yang ini juga “susah ” lakunya gimana mau naikkan harga ?!… ih peurih a.. peurih usaha ayeunamah…..

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Bangkitlah….Bangkitlahhhhh……


Welcome to sepatukulitku. blog ini ku persembahkan untuk orang-orang/ produsen, home industri sepatu di cibaduyut bandung Indonesia.

Mudah – mudahan lewat Blog sederhanaku ini aku mampu mengangkat citra persepatuan di Cibaduyut.

Tanpa mengurangi rasa Hormat kepada para suhu Blogger mohon bimbingan serta bantuannya untuk sekedar mengisi dan memberikan pencerahan bagi “Orang Cibaduyut” umumnya, khususnya kepada si”bodoh” ini.

Baik itu dibidang tekhnik persepatuan, pemasaran, serta Link-link yang dapat membantu peningkatan kemampuan SDM, serta pendistribusian sepatu, demi kemajuan persepatuan di Cibaduyut.

Sebab kami hanya tau sebatas yang kami tau walaupun secara “menerka/ mendengar dari orang – orang “pintar” bahwa sepatu cibaduyut sudah terkenal sampai ke mancanegara. Tetapi banyak pertanyaan kami yang tak kami temukan jawabannya,

  1. seperti produk siapa sih yang sudah dikenal itu (orangnya). agar kami bisa belajar ke orang tersebut.
  2. Negara mana sih yang telah menerima sepatu made in Cibaduyut itu agar kami tau dan bertanya jenisyang bagaimana sebetulnyadari sepatu itu yang dapat di terima oleh orang Luar negri itu.
  3. Siapa sih sebenarnya yang bisa membantu kami ” tanpa pamrih” dalam hal ini instansi pemerintah atau badan yang bisa “menyentuh langsung” produsen.
  4. etc…etc (kurang lebih puluhan atau ratusan mungkin)

Wal akhir terima kasih yang telah membaca blog sederhana ini semoga menjadi suatu wawasan dan Mungkin tergerak hatinya untuk menanggapi atau ikut meramaikan BLOG Sepatukulitku.

Cibaduyut,30 April 2010

Atas nama Orang Cibaduyut dan Sekitarnya

Bang Lukman

Posted in Uncategorized | Leave a comment