Terombang – ambing


mengapa harus ??? pertanyaanya

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ASLI PRODUKSI INDONESIA


CINTA PRODUKSI INDONESIA

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Asli produk sepatu kulitku


Posted in Uncategorized | 1 Comment

difersifikasi produk sepatu cibaduyut – sebuah pemikiran


Suatu saat sebelum saya tuliskan tulisan ini saya sempat bertanya dalam hati saya; mungkinkah ada  “sesuatu”, kekurangan yang terjadi pada home industri sepatu di cibaduyut ? atau telah ketinggalan dan salah dalam sistem pemasaran, atau mungkin faktor kualitas sepatu itu sendiri yang mempengaruhi perkembangan Industri sepatu cibaduyut sehingga tidak melesat pesat, bahkan cenderung menurun secara signifikan (kuantitasnya) dan di tinggalkan konsumennya ??

setelah saya browsing sana sini ada satu hal yang sangat menarik saya temukan, dan sedikit mengobati pertanyaan saya.
Saya menemukan satu kata : “DIFERSIFIKASI PRODUK”.

Untuk divesifikasi produk ini diperlukan <strong>kreatifitas,inovasi, penelitian, modal, promosi atau komunikasi pemasaran, bantuan dari pemerintah untuk usaha kecil dan menegah</strong>. Artinya penganeka ragaman produk.
Jadi diawali dengan satu produk utama dapat dibuat berbagai macam produk.
Diversifikasi tetap berorientasi pasar yakni mempertimbangkan kebutuhan, selera, harapan, daya beli dan segmen pasarnya.

<strong>Kita mulai dengan sepatu laki laki (dewasa/remaja),</strong>

Yang saya tau dan lakukan jika kita membeli sepatu, Mr. X lihat model yang akan dibeli, kemudian jika telah tertarik dengan model tersebut maka akan mencobanya dahulu, setelah itu lihat harga jika telah sreg dengan hati lalu dibeli…. !
kemudian apa yang terjadi jika kejadiannya seperti ini; model ok, tapi ukuran tidak ada. atau ukuran ada tapi model kurang cocok. kejadian seperti ini sering terjadi.
Nah disinilah menurut saya difersifikasi itu berperan, atas kejadian  tersebut di atas, dapatkah kejadian tersebut diatasi? jawabannya…………DAPAT !!!
caranya : toko memiliki ahli pembuat sepatu, karena diawali dengan satu model sepatu maka si toko bisa membuat sepatu lainnya sesuai dengan keinginan si Mr. X tersebut. keuntungannya ?….. Mr.X akan merasa puas ! tau kan kepuasan itu akan dibayar dengan uang keuntungan lainnya Mr.X bisa promosi ke rekan rekannya bahwa Toko “G” di kawasan cibaduyut bisa terima pesanan sesuai dengan model dan ukuran yang di inginkan konsumen. berapa harga yang akan di bayar dengan itu ??
Dengan diversifikasi produk, suatu perusahaan tidak akan bergantung pada satu jenis produknya saja. Tetapi perusahaan juga dapat mengandalkan jenis produk lainnya (produk diversifikasi).Karena jika salah satu jenis produknya tengah mengalami penurunan, maka akan dapat teratasi dengan produk jenis lainnya.
Yang terpikirkan oleh penulis, jangan tergantung dari produksi bahan kulit saja, disamping sekarang harga kulit mahal, ciptakan inovasi baru. selain dari bahan kulit apa lagi yang bisa di olah dan dijual, seberapa mampu produsen berinovasi menciptakan model sepatu. ini perlu komunikasi antara produsen toko, dan pemerintah.
Namun perlu di ingat,diversifikasi adalah sebuah strategi yang paling kompleks implikasinya. karena <strong>bagi perusahaan</strong><strong></strong><strong>, ini akan menjadi pengalaman baru, baik dari segi pasarnya (pasar sasaran baru), maupun dari segi produknya (produk terbaru).
Perusahaan harus melakukan studi kelayakan terlebih dahulu, misalnya saja apakah channel distribusi yang baru akan cukup mendukung karena distribusi menjadi faktor utama keberhasilan produk.
Demikian pula harus diyakini bahwa produk baru tersebut memang sesuai dengan minat konsumen dimana perusahaan bisa memproduksinya dengan kualitas yang sama baiknya dengan produk-produk lamanya atau lebih baik.
Untuk mengurangi resiko kegagalan, biasanya dilakukan test market terlebih dahulu, artinya produk baru ini dicoba dipasarkan di kota tertentu sambil dimonitor sejauh mana penerimaan pasar/konsumennya. Setelah mempelajari hasil test market dan modifikasi produk apabila diperlukan, barulah produk dipasarkan di pasar yang lebih luas.

Bandung, Juni 2011

Abang

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Antara Program ILO dahulu VS Kebutuhan Pekerja Industri Rumahan Cibaduyut Saat Ini


Cerita seseorang di Cibaduyut ;

Berawal dari program ILO. dengan melarang seorang anak membantu ayahnya membuat sepatu. Memang betul program itu dahulu. Namun apa ILO tidak memikirkan akibat lainnya di kemudian hari.
Mana regenerasi pengrajin sepatu, dengan janji dulu bahwa akan di adakan pelatihan pembuatan sepatu bagi usia pekerja. buktinya ??? wuuuhhhh gak ada la yaw !!!
kasihan pengrajin sepatu, sudah harga bahan baku mahal, cari pegawai susah sebab gak ada regenerasi, ditambah gak ada perhatian husus dari pemerintah lagi……

Menurut saya , “TAK ADA AYAH YANG SUKA MEMPEKERJAKAN ANAKNYA” gak perlu ILO turun tangan langsung degan hal itu. SEBAB, maksud si ayah menyuruh anaknya membantu (catat, MEMBANTU) pekerjaan ayahnya ya ini, ……’jika dikemudian hari kamu nak, susah mencari pekerjaan teruskan aja pekerjaan ayahmu’ dengan harapan usaha anaknya lebih maju daripada ayahnya.
dengan menggunakan tekhnologi lebih maju misalnya ?!!, ….pan bisa lebih “edan” itu mah…
(diterjemahkan dalam bahasa indonesia, nara sumber menggunakan bahasa sunda).
Saya dulu bukannya gak setuju dengan program pemerintah, tapi saya lebih memikirkan masa depan anak saya.
Sebab saya ingat dulu, waktu di garut kampung saya, petani mengajak anaknya membantu pekerjaan bapaknya. Dengan maksud yah agar tau cara menanam padi. jadi petani pan bagus, apalagi pake teknologi yang maju seperti di luar negri. “atuda” anaknya bandel dan males, jadi aja sekarang sawah si bapaknya gak ada yang nge garap. Pan sekarang tau harga beras berapa? tapi yang penting sekarang cari tukang tandur nya aja susah !! nah sayah teh takut kaya gitu dulu teh, eehh… sekarang kejadian susah cari pegawai sepatu da… ga ada yang belajar sepatu lagi dulu teh…(Regenerasi maksudnya).

Cibaduyut, juni 2011

seperti inikah pekerja itu ???

Sepatu baru ???

sumber : seseorang (asli pemilik bengkel sepatu)

Posted in artikelku | Leave a comment

Sepatu Cina Vs Sepatu Lokal


RABU,22 Juni 2011

Pembelakuan perdagangan bebas antara ASEAN-Cina (CAFTA) pada tahun ini cukup membuat ketar-ketir para pengusaha usaha kecil dan menengah. Namun tidak demikian dengan para perajin sepatu rumahan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Mereka siap bersaing dengan produk sepatu asal Cina, tentunya dengan tetap menjaga kualitas sepatu.

Chaeruddin, misalnya. Dia adalah pemilik industri rumahan yang terletak di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Karanganyar, Subang. Berdasarkan pantauan SCTV, Selasa (26/1) pagi, para perajin sudah terlihat beraktivitas. Mereka harus lebih giat bekerja karena banyaknya pesanan sepatu yang diterima industri rumahan ini.

Di lokasi ini berbagai jenis sepatu murah diproduksi dengan harga yang relatif terjangkau. Mulai dari harga Rp 85 ribu hingga Rp 135 ribu per pasang. Umumnya, sepatu yang diproduksi adalah jenis sepatu kulit. Walau harganya relatif murah, soal kualitas tidak perlu diragukan lagi.

Terkait dengan maraknya pemberitaan perdagangan bebas Indonesia-Cina, Chaeruddin mengatakan, para perajin sepatu di Subang pada umumnya tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Karena mereka yakin mampu bertahan dengan tetap menjaga kualitas, serta menciptakan model-model sepatu yang mengikuti perkembangan zaman. Dengan ini, imbuh Chaeruddin, para pembuat sepatu di Subang optimistis pembeli akan tetap memilih produk mereka ketimbang produk Cina.

Chaeruddin adalah salah seorang pengusaha sepatu lokal di Subang yang cukup berhasil. Saat ini Chaeruddin telah mampu mempekerjakan delapan pegawai. Sekalipun persaingan semakin ketat, usaha Chaeruddin tetap berkembang. Bahkan dalam satu bulan rumah industri sepatu milik Chaeruddin mampu memproduksi sepatu sebanyak 750 pasang.

Chaeruddin juga menjelaskan, justru dengan adanya perdagangan bebas ini akan tercipta persaingan yang lebih gigih lagi. Nanti akan terlihat produk Cina yang lebih baik atau produk lokal lebih utama. Dan, biarlah konsumen yang menentukan.

Sumber : liputan6

Posted in Uncategorized | Leave a comment

salah antisipasi ??!!


“Kelesuan Sentra Cibaduyut sudah diprediksi sejak 14 tahun lalu. Namun tidak ada aksi yang tegas dalam penyelamatan kawasan itu,” kata Ketua Dewan Pengembangan  Ekonomi Kota Bandung Herman Muchtar di Bandung, Minggu (6/3).

Ia menyebutkan, 14 tahun lalu sebenarnya sudah diusulkan langkah-langkah antisipasi untuk mempertahankan eksistensi kawasan Cibaduyut. Namun tidak adanya aksi yang maksimal membuat kawasan itu menjadi lesu dan cenderung ditinggalkan konsumen. “Strategi dan langkah antisipasi sebenarnya sudah tersusun sejak lama untuk Cibaduyut, namun aplikasinya tidak maksimal. Aksi tidak maksimal,” kata Herman.

Ia menyebutkan, pengembangan kawasan ekonomi potensial di Kota Bandung menjadi salah satu fokus Dewan Pengembangan Ekonomi Kota Bandung, termasuk merekomendasikan berbagai rencana antisipasi terkait program yang digulirkan. Menurut Herman, selama ini banyak program strategis yang tidak diikuti dengan rencana antisipasi strategis untuk jangka menengah dan panjang.

“Rencana antisipasinya hanya untuk jangka pendek, tidak ada untuk jangka menengah dan panjang. Paradigma itu perlu diperbaiki,” kata Herman yang juga Ketua PHRI Jawa Barat itu. Ia menyebutkan, tidak hanya sentra Cibaduyut

Itu satu ya…

keduanya :

penyebabnya antara lain kurangnya sosialisasi yang berkesinambungan atau putus di tengah jalan, tanpa orang yang benar benar berhubungan langsung dengan program itu tau keuntungan dari program pengembangan kawasan ekonomi potensial atau bahkan tidak tau adanya program dari Dewan Pengembangan Ekonomi Kota Bandung itu.

Ih siapa yang tau ya…

Orang Cibaduyut nya sendiri gak tahu mungkin sekarang daerahnya sudah mulai “dilupakan” orang.  Kenapa ya ?………

“Saya sendiri heran”, kata kang Iwan tetangga saya yang tukang sepatu itu, “saya bisa hitung loh bis pariwisata yang masuk berkunjung ke kawasan cibaduyut bisa di hitung dengan jari setiap minggunya. Itupun yang beli sepatu dari satu bis itu paling 2 atau 3 orang aja !! geus poho kitu ka produk urang teh ?? (sudah lupa mungkin ke produk kita ya ?? Cibaduyut. Red)

Pernah suatu ketika penulis “ngabako” istilah sunda maksudnya ngobrol ringan dengan beberapa tokoh persepatuan di cibaduyut untuk mengadakan “PAMERAN AKBAR SEHARI” industri sepatu cibaduyut yang bersekala nasional !!  dalam menarik minat konsumen dalam negri untuk membeli produksi sepatu cibaduyut, minimal memberikan semacam sinyal bahwa cibaduyut itu masih ada / eksis !! pesertanya Produsen sepatu cibaduyut tentunya. Tapi sampai sekarang ……….

ketiganya :

Bahwa kebanyakan orang cibaduyut sekarang jadi pesimis !!!

penyebabnya euweuh pamuntangan (ga ada yang bisa jadi bapak angkat). ujung ujungnya mereka berpikir ..”ah daripada euweuh” (daripada gak ada samasekali) yang ada aja kerjain dulu. Tidak kreatif memang tapi kan….

hehehe….  —————————

 

Ah hanya iseng aja mengisi waktu sambil menunggu konsumen datang yang entah kapan…. bisa sejam lagi, dua jam lagi,..besok…lusa.. ataauu ???

Bandung, maret 2011

Abang,

 

 

 

 

Posted in artikelku | Leave a comment

iklan produk sepatu yang mana yang lebih cocok konsepnya ?


 

Iklan menarik perhatian pelanggan semakin bertebaran di mana-mana, dari pelosok desa sampai dengan wilayah perkotaan. Sarat iklan. Apalagi era teknologi informasi dan komunikasi, wah sepi tanpa iklan.

“Belanja iklan” bagi perusahaan kian penting dan wajib mengisi pundi-pundi periuk dapur. Karena “belanja iklan” bagi perusahaan semakin marak, tak segan-segan perusahaan tertentu mematok biaya yang keluar lebih tinggi daripada yang masuk. Pola pikir yang dipakai berjangka panjang. Bertahun-tahun berjuang dan beriklan hanya lantaran memperkenalkan produk hingga terkenal yang berdaya jual tinggi.

Atas dasar itu, semakin banyak saja cara perusahaan beriklan. Kalau pengiklan memiliki “mentalitas menerabas”, tampaklah cerminan iklan yang ditampilkan asal-asalan. Iklan yang beretika menjunjung tinggi dan menghormati sasaran pengiklan, ternyata hasilnya jauh lebih efektif dan manjur ketimbang iklan seenaknya dan sekenanya.

Berikut ini tampilan tren iklan dan bisnis pada era TIK (teknologi informasi dan komunikasi) atau ICT (information and communication technology). Dengan kata lain, ciri-ciri iklan yang menarik hati pelanggan dapat dicermati seperti berikut ini.

1. Iklan bertanda asterisk (*)
Iklan ini termasuk iklan menipu dan biasanya dengan tanda asterisk (*). Kalau tampak dari kejauhan sejauh mata memandang, atau kalau sekilas waktu baca dan waktu lihat, maka tanda asterisk ini enggak “bunyi”.  Justru pengiklan yang tak beretika memang bermaksud mengecoh konsumen. Oleh karena itu, tanda asterisk (*) jadi obat penawar yang mujarab.

Tahu-tahu berlalunya waktu cepat sekali, eh konsumen yang disasar — setelah terpaku pada bunyi iklan yang menarik hati itu — sudah berada di depan barang yang diiklankan. Siap beli, siap ambil, dengan catatan tanda asteriks menunjukkan bahwa barang yang diiklankan hanya produk tertentu, misalnya.

2. Iklan inden (dan berhadiah)

Nah, ini dia ada iklan terbaru dengan mobil dan motor terbaru, terkini, terandal. Sekarang cobalah amati dengan cermat, selain bisa inden, artinya pembeli bisa pesan dulu, eh ndilalah berhadiah pula. alamak. Puri gonggo, kelelawar bulu kuduk, gajah bleduk, itu iklan betul-betul akal-akalan pengiklan memasuki era TIK. Dahsyat sekali pengaruh iklan produk inden! Calon pembeli sungguh-sungguh terpuaskan membeli produk yang belum ada barang. Di tangan produsen barang yang dijual sebetulnya belum ada, kalau toh ada sebagai sample atau contoh produk. Lantas, sebagai tanda jadi atas pembelian barang yang ditawarkan, patut dan sepantasnya pembeli menerima hadiah. Busyettt, …. luarbiasa. Strategi pengiklan yang strategis dan jitu. Biasanya strategi penjual memuaskan dan mengikat pembeli membuat produsen memiliki modal usaha dan modal kerja diawal. Vitamin D alias duit yang masuk dari barang inden sudah cukup untuk mengetahui jumlah mobil dan motor yang harus diproduksi, misalnya.

3. Iklan berhadiah bagi 1.000 pembeli pertama

H   Bagi seribu pembeli pertama pastilah hadiah siap ditangan. Jangan ragu, berapa pun pembeli yang masuk ke penjual, jumlah seribu cukup sulit mendeteksinya. Apalagi kalau unit usaha bercabang-cabang. Hadiah menyebar ke pembeli belum bisa merata, kalau hadiah habis, penjual bisa meminta lagi ke cabang yang lain. Pokoknya, seribu pembeli pertama tampaknya tiada hitungan yang masuk akal. Alat ukur yang dipakai untuk mengetahui seribu pembeli pertama tercapai masih masuk kategori akal-akalan penjual plus pengiklan.

4. Iklan bersyarat dan ketentuan berlaku

Teks syarat dan ketentuan berlaku letaknya tersimpan, di sudut, di tengah, dan kecil ukuran jenis hurufnya. Pembeli mula-mula senang begitu iklannya merasuk ke relung hati  hingga sampai pada rencana atau respons untuk memiliki barang. Namun, ketika tiba pada ayat syarat dan ketentuan berlaku, banyak calon pembeli jadi kecewa ketika ketentuan dan syarat itu tidak ada pada diri pembeli. Apa lacur, si calon pembeli sudah ada di depan penjual, ….

5. Iklan berbonus pulsa

Lagi-lagi daya tarik iklan dengan memberi bonus pulsa kian  menjadi-jadi. Sekali kirim surat-menyurat singkat atau SMS dengan vendor atau operator, bonus pulsa ada ditangan. Bonus ada ditangan setelah kirim-mengirim berkali-kali atau terjadi jika pengirim menjawab pertanyaan yang muncul dari perusahaan penyelenggara. Kalau pengirim menuruti perintah dengan teratur, bonus barulah diberikan. Jenis bonus ini tidak konkret karena pengirim wajib menunggu otorisasi penyelenggara.

6. Iklan hanya barang tertentu

Sale 50% wah gede banget, lumayanlah. Harga sepatu asli buatan negeri paman Sam berbanderol Rp300.000, misalnya kalau diskon 50% bukan main murahnya. Pola iklan ini mujarab untuk mengecoh calon pembeli. Setelah menimang-nimang, menimbang-nimbang, akhirnya memilih barang yang cocok, sampai di kasir bukan rasa senang yang muncul, melainkan rasa kecewa. Apalagi kalau rasa kecewa ini baru muncul di rumah kediaman atau tempat tinggal alias saat tiba di rumah. Dua kali lipat rasa kecewa muncul. Begitu komplain, balik lagi ke penjual, ternyata betullah harga yang digesek berlaku tanpa diskon. Lalu telusuri saja kenapa hal itu terjadi? Jawabannya mudah saja. Diskon hanya berlaku pada produk tertentu. Cuma teks produk tertentu seperti tampak pada dua foto di atas karya Wisnu Nugroho, redaktur Info Komputer di Wisma Kota BNI 46 Jenderal Sudirman Jakarta sebagai bukti iklan atau billboard/poster pengecoh untuk calon pembeli yang salah alamat, tapi sudah sudi mampir di gerai penjual berdiskon gede.

Prinsip pembeli sebetulnya mudah saja kalau berhasrat menginginkan barang dengan harga diskon. Belilah barang yang benar-benar sudah tahu dan perlu untuk dimiliki. Tanpa pengetahuan dan keperluan yang mumpuni, pembeli sering “tertipu”. Pokoknya, mana ada penjual yang mau merugi atas barang dagangan yang dijajakan, sekecil apa pun ongkos yang mesti dikeluarkan untuk beriklan.

Posted in artikelku | Leave a comment

“menerima pesanan sepatu satuan” masuk ke Konsep Pemasaran



Konsep Pemasaran I
Pemasaran adalah keinginan manusia dalam hubungannya dengan pasar. Pemasaran maksudnya bekerja dengan pasar untuk mewujudkan transaksi yang mungkin terjadi dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Pemasar adalah orang yang mencari sumberdaya dari orang lain dan mau menawarkan sesuatu yang bernilai untuk itu. Kalau salah satu pihak lebih aktif mencari pertukaran daripada pihak lain, maka pihak pertama adalah pemasar dan pihak kedua adalah calon pembeli. Dari konsep inti pemasaran maka, ada lima konsep pemasaran yang mendasari cara organisasi melakukan kegiatan pemasarannya.  

  • Konsep Pemasaran Berwawasan Produksi
    Konsep ini adalah salah satu konsep tertua, yaitu akan memilih produk yang mullah didapat dan murah harganya. Dalam hal ini memusatkan perhatiannya untuk mencapai efisiensi produksi yang tinggi serta cakupan distribusi yang luas. Konsep ini dapat dijalankan apabila permintaan produk melebihi penawarannya dan dimana biaya produk tersebut sangat tingi. Kelemahan konsep pemasaran ini adalah pelayanan tidak ramah dan buruk.
  • Konsep Pemasaran Berwawasan Produk
    Konsep ini berpendapat bahwa pelanggan akan memilih produk yang menawarkan mutu, kinerja terbaik dan inovatif dalam hal ini memuaskan perhatian untuk membuat produk yang lebih baik dan terus menyempurnakannya. Industri yang berwawasan ini cenderung tidak memperhatikan keinginan dan kebutuhan dari pelanggan, sehingga divisi pemasaran akan mengalami kesulitan dalam pemasaran.
  • Konsep Pemasaran Berwawasan Menjual
    Konsep ini berpendapat bahwa kalau pelanggan dibiarkan saja, pelanggan tidak akan membeli produk industri dalam jumlah cukup sehingga harus melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif. Konsep ini beranggapan bahwa pelanggan enggan membeli dan harus didorong supaya membeli. Konsep ini sering digunakan pada ” Produk yang tidak dicari” atau tidak terpikir untuk dibeli serta pada industri yang mengalami kelebihan kapasitas produksi.
  • Konsep Pemasaran Berwawasan Pemasaran
    Konsep ini berpendapat bahwa kunci untuk mencapai tujuan industri terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien daripada saingannya. Konsep berwawasan pemasaran bersandar pada empat pilar utama, yaitu : (1) pasar sasaran,
    (2) kebutuhan pelanggan,
    (3) pemasaran yang terkoordinir serta
    (4) keuntungan.
    Konsep ini telah dinyatakan dalam banyak cara
    – Memenuhi kebutuhan dengan menguntungkan
    – Temukan keinginan dan penuhilah
    – Cintailah pelanggan bukan produknya
    – Dapatkanlah sesuai kesukaan anda
    – Berusaha sekuat tenaga memberikan nilai, mutu dan kepuasan tertinggi bagi uang pelanggan.
  • Konsep Pemasaran Berwawasan Bermasyarakat
    Konsep ini beranggapan bahwa tugas industri adalah menentukan kebutuhkan, keinginan serta kepentingan pasar sasaran dan memenuhi dengan lebih efektif serta lebih efisien daripada saingannya dengan cara mempertahankan atau meningkatkan kesejahteraan pelanggan dan masyarakat. Konsep pemasaran bermasyarakat meminta pemasar untuk menyeimbangkan tiga faktor dalam menentukan kebijaksanaan pemasaran, yaitu(1) keuntungan industri jangka pendek,
    (2) kepuasan pelanggan jangka panjang dan
    (3) kepentingan umum dalam pengambilan keputusan.
  •  

    Posted in artikelku | Leave a comment

    TREND usaha SEPATU di CIBADUYUT atau….


    baru ngisi lagi nih… setelah beberapa bulan saya malas untuk menulis. oh iya selamat tahun baru 20011 semoga kita semua diberikan oleh Allah barokah yang lebih banyak, rezeki yang bermanfaat, ilmu pengetahuan yang berguna serta kemajuan sifat, mental dan kekuatan iman yang mampu membawa kita ke arah yang lebih baik lagi… Amin.
    ———————————–
    Ada satu perkembangan dalam hal ini saya “istilahkan” sebagai trend di kawasan Home industri sepatu cibaduyut, yaitu “Banyaknya pengusaha yang beralih strategi usahanya dengan cara menerima pesanan sepatu satuan”
    Tekhnisnya yaitu mereka menerima pembuatan berbagai model sepatu berdasarkan gambar yang di bawa oleh si pemesan.
    selidk punya selidik ternyata gambar yang kebanyakan meniru model yang dari majalah, internet dan lain sebagainya itu bagi sebagian pemesan cukup memuaskan hati mereka, walaupun dengan catatan tidak semua bahan sama persis dengan yang ada di gambar tersebut tapi, kalau masalah model sepatunya sama persis !!! wahhh…hebat kan orang cibaduyut !!!
    seperti dituturkan oleh seorang kawan yang meiliki counter sepatu di salah satu mall cukup terkenal di kota bandung, dia menerima pesanan sepatu satuan di counter nya lalu yang mengerjakannya ya itu orang cibaduyut !!!
    siapa sangka, tak ada yang mengira bahwa sedemikian cerdiknya teman saya itu memanfaatkan peluang usaha sampai sedemikian rupa.
    mengenai harga ?? hmm… jangan tanya,
    diatas 300 ribu rupiah. sedang modal yang dia keluarkan hanya 175 ribu rupiah saja… bayangkan !!!
    tapi disini yang mau saya ungkapkan sebenarnya adalah : Bagaimana mungkin tidak akan maju jikalau memang home industri yang ada di cibaduyut mau dan perduli serta ingin tau tehnik dan strategi pemasaran. inikan menyangkut biaya produks,i mereka yang tidak memiliki modal yang cukup besar barang tentu lebih tertarik dengan pesanan sepatu satuan di banding pesanan sepatu partai besar.
    jadi jika memang harus di tanya layakkah pengusaha kecil tersebut memiliki pengetahuan dasar strategi pemasaran ?? jawabannya ya !!
    bagai mana pendapat kawan kawan blogger ?…. saya tunggu masukan serta kritikannya

    Bandung, 01012011

    Posted in Uncategorized | Leave a comment